Jumat, 10 Oktober 2014

Ikhtiar dan Kisah Pengemis

Standard
Islam melarang setiap pemeluknya untuk menganut fatalisme yang mana berarti paham yang keliru, menyimpang dari ajaran tentang iman pada takdir, penghambat kemajuan dan penyebab kemunduran umat, dan bisa juga diartikan paham atau ajaran yang mengharuskan berserah diri pada nasib dan tidak perlu berikhtiar, karena hidup manusia dikuasai dan ditentukan oleh nasib.

            Coba cermati peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW berikut!

Kejadian pada zaman Rasulullah SAW   
    Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW melihat seorang pengemis yang meminta minta sedekah. Sebenarnya pengemis itu berhak mendapat sedekah, baik dari “baitul maal” ataupun dari para hartawan. Namun, Nabi Muhammad SAW menginginkan agar pengemis itu mau berusaha mengubah nasibnya dan tidak terus-menerus menjadi beban orang lain.Nabi SAW  memanggil pengemis itu dan bertanya, “ apakah kamu mempunyai suatu harta benda dirumah?” pengemis itu menjawab, “ya saya memiliki selembar permadani dan sebuah nampan.” Nabi SAW bersabda, “ coba kamu ambil dan bawa kesini kedua macam harta mu itu.!"
      Kemudian Nabi SAW menawarkan kedua barang tersebut kadapa parra sahabatnya, seranya bersabda, “ siapa diantara anda semua yang berminat membeli kedua barang ini?” seorang sahabat kemuan berkata, “saya wahai Rasulullah, saya bersedia membayarnya dengan lima dirham.” Kemudian Nabi menawarkan kedua barang ini kepada para sahabat yang lain, dan siapa diantara pada sahabat itu yang berani membayar lebih mahal.
        Akhirnya, ada sahabat yang bersedia membayar kedua barang tersebut dengan harga lima belas dirham, setelah jual beli berlangsung dan uang tersebut diserahkan kepada pengemis itu, Nabi SAW menyuruh agar mempergunakan uang itu untuk modal usaha mencari kayu bakar untuk dijual, yang hasil penjualannya dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Kejadian pada zaman khaifah    
    Suatu ketika, khalifa Umar bin Khattab r.a dan para sahabatnya berada dalam perjalanan menuju suatu daerah untuk mengadakan inspeksi. Beliau mendapat laporan bahwa didaerah yang akan dikunjunginya sedang berjangkit penyakit tauun (sampar), yang sangat menular. Setlah Umar bin Khattab r.a mendapat laporan tersebut, lalu beliau dan rombongan memutuskan untuk kembali saja ke Madinah. Setelah salah seorang sahabat, Abu Ubaidillah bin Jarrah r.a bertanya, “wahai khalifah mengapa tuan lari dari takdir Allah?” kholifah Umar menjawab, “betul kita lari dari takdir Allah, dan pegi menuju takdir Allah pula.”

 
Dari kedua peristiwa tersebut dapat disimpulkan, bahwa :
  1. Islam menghendaki agar setiap Muslim berusaha sekuat tenaga dengan cara yang halal untuk mengubah nasibnya agar lebih baik.
  2. Islam menghendaki agar setiap muslim berusaha melakukan tindakan-tindakan preventif (pencegahan) agar tidak terrimpa suatu bencana atau mengalami kegagalan dalam suatu usaha.


Diantara cara-cara yang harus ditempu agar sesuatu usaha berhasil adalah sebagai berikut : 
  1. Menguasai bidang usaha yang dilakukannya
  2. Berusaha dengan sungguh-sungguh
  3. Melandasi usahanya dengan niat ikhlas karna Allah
  4. Berdoa pada Allah agar memproleh pertolongannya


Allah SWT  Berfirman dalam Al-Quran surat An-Najm, 53: 39-42) yang artinya :
“ ... sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (kecuali) bila mereka sendiri mengubah keadaannya ...” (Q.S An-Najm 53: 39-42)

Renungan !
Apakah kamu telah berusaha dengan sungguh-sungguh  akan pekerjaan ataupun niat yang telah kamu tanamkan untuk dicapai ??


0 komentar:

Posting Komentar

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS
  • ”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”
  • "Hati tertutup oleh tiga hal; 1.Senang dengan yang ada, 2.Bersedih terhadap yang hilang, 3.Gembira dengan pujian"
  • "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan"
  • "Jangan sampai ayam jantan lebih pandai darimu. Ia berkokok di waktu subuh, sedang kamu tetap lelap dalam tidur"
  • "Bagi orang berilmu yang ingin meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, maka kuncinya hendakalah ia mengamalkan ilmunya kepada orang-orang"
  • "Pedagang yang berhati lemah takkan pernah untung ataupun rugi. Malah ia rugi. Ya, seseorang harus menyalakan api supaya memperoleh cahaya"