Senin, 27 Oktober 2014

Bisnis dalam Islam

Standard
Bisnis merupakan suatu kegiatan dimana kita melakukan usaha untuk mendapatkan keuntungan dengan cara berkelompok ataupun perorangan, bisnis lebih identik dengan dunia perdagangan, namun sebenarnya bisnis bisa mencangkup kesemua aspek baik secara sosial maupun financial.


Dalam agama islam urusan bisnis telah diatur secara baik dalam kitab suci Al-Quran yang mana akan menuntun manusia ke derajat yang tinggi sehingga akan terciptanya kehidupan yang sejahtera tak hanya di dunia maupun diakhirat.

Sebelum melanjutkan ke bahasan selanjutnya adabaiknya kita mengetahui terlebuh dahulu pengertian dari pada bisnis secara harfiah.

Berikut beberapa pengertian Bisnis menurut para ahli :

1. Steinford ( 1979)
Business is an institution which produces goods and services demanded by people.” Artinya bisnis ialah suatu lembaga yang menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Apabila kebutuhan masyarakat meningkat, maka lembaga bisnis pun akan meningkat pula perkembangannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sambil memperoleh laba.
2. Allan Afuah (2004)
“Business is the organized effort of individuals to produce and sell for a provit, the goods and services that satisfy societies needs. The general term business refer to all such efforts within a society or within an industry. Maksudnya Bisnis ialah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan ada dalam industri. Orang yang mengusahakan uang dan waktunya dengan menanggung resiko dalam menjalankan kegiatan bisnis disebut Entrepreneur.
3. Musselman dan Jackson (1992)
Bisnis adalah jumlah seluruh kegiatan yang diorganisir oleh orang-orang yang berkecimpung dalam bidang perniagaan dan industry yang menyediakan barang dan jasa untuk kebutuhan mempertahankan dan memperbaiki standard serta kualitas hidup mereka.

Dalam berbisnis tentunya kita memerlukan suatu tata cara atau etika, etika yang digunakan akan lebih efektif untuk mengarahkan dan member petunjuk tetang tata cara berbisnis. Etika sendiri berasal dari (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.

Dalam bahasa Arab, kata etika atau moralitas disebut al-khuluq dan jamaknya al-akhlaq , yang berarti usaha manusia untuk membiasakan diri dengan adat istiadat yang baik, mulia dan utama. Dengan demikian seseorang dikatakan berakhlak atau bermoral yang baik, karena ia membiasakan diri dengan adat istiadat yang baik, yang seakan-akan ia dilahirkan dan diciptakan dalam keadaan demikian.

Prinsip-prinsip yang sering dipakai dalam berbisnis adalah sebagai berikut:
1.      Kejujuran
Prinsip ini merupakan hal yang paling penting dalam dunia bisnis, apalagi bagi para muslim, setiap tingkah laku yang kita kerjakan semua ada yang melihat, maka dari itu ketika berbisnis konsep kejujuran ini bila dipegang teguh dan diterus diterapkan dalam keaktivitasan berbisnis akan meningkatkan rasa kenyamanan dan kepercayaan diri yang bertambah dari lingkungan sekitar.
2.      Keadilan
Sebuah perinsip yang akan menentukan sikap kita dalam berbisnis dimana kita dituntut untuk melakukan hal yang sama rata atau tidak adanya pemberat sebelahan di salah satu pihak rekan bisnis.
3.      Tanggungjawab
Menurut Al-Ghozali, konsep adil meliputi hal bukan hanya equilibrium tapi juga keadilan dan pemerataan. Untuk memenuhi tuntutan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertanggung jawabkan tindakannya.

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali gengan jalan perdagangan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu". (QS An-Nisa : 29)




Jumat, 10 Oktober 2014

Ikhtiar dan Kisah Pengemis

Standard
Islam melarang setiap pemeluknya untuk menganut fatalisme yang mana berarti paham yang keliru, menyimpang dari ajaran tentang iman pada takdir, penghambat kemajuan dan penyebab kemunduran umat, dan bisa juga diartikan paham atau ajaran yang mengharuskan berserah diri pada nasib dan tidak perlu berikhtiar, karena hidup manusia dikuasai dan ditentukan oleh nasib.

            Coba cermati peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW berikut!

Kejadian pada zaman Rasulullah SAW   
    Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW melihat seorang pengemis yang meminta minta sedekah. Sebenarnya pengemis itu berhak mendapat sedekah, baik dari “baitul maal” ataupun dari para hartawan. Namun, Nabi Muhammad SAW menginginkan agar pengemis itu mau berusaha mengubah nasibnya dan tidak terus-menerus menjadi beban orang lain.Nabi SAW  memanggil pengemis itu dan bertanya, “ apakah kamu mempunyai suatu harta benda dirumah?” pengemis itu menjawab, “ya saya memiliki selembar permadani dan sebuah nampan.” Nabi SAW bersabda, “ coba kamu ambil dan bawa kesini kedua macam harta mu itu.!"
      Kemudian Nabi SAW menawarkan kedua barang tersebut kadapa parra sahabatnya, seranya bersabda, “ siapa diantara anda semua yang berminat membeli kedua barang ini?” seorang sahabat kemuan berkata, “saya wahai Rasulullah, saya bersedia membayarnya dengan lima dirham.” Kemudian Nabi menawarkan kedua barang ini kepada para sahabat yang lain, dan siapa diantara pada sahabat itu yang berani membayar lebih mahal.
        Akhirnya, ada sahabat yang bersedia membayar kedua barang tersebut dengan harga lima belas dirham, setelah jual beli berlangsung dan uang tersebut diserahkan kepada pengemis itu, Nabi SAW menyuruh agar mempergunakan uang itu untuk modal usaha mencari kayu bakar untuk dijual, yang hasil penjualannya dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Kejadian pada zaman khaifah    
    Suatu ketika, khalifa Umar bin Khattab r.a dan para sahabatnya berada dalam perjalanan menuju suatu daerah untuk mengadakan inspeksi. Beliau mendapat laporan bahwa didaerah yang akan dikunjunginya sedang berjangkit penyakit tauun (sampar), yang sangat menular. Setlah Umar bin Khattab r.a mendapat laporan tersebut, lalu beliau dan rombongan memutuskan untuk kembali saja ke Madinah. Setelah salah seorang sahabat, Abu Ubaidillah bin Jarrah r.a bertanya, “wahai khalifah mengapa tuan lari dari takdir Allah?” kholifah Umar menjawab, “betul kita lari dari takdir Allah, dan pegi menuju takdir Allah pula.”

 
Dari kedua peristiwa tersebut dapat disimpulkan, bahwa :
  1. Islam menghendaki agar setiap Muslim berusaha sekuat tenaga dengan cara yang halal untuk mengubah nasibnya agar lebih baik.
  2. Islam menghendaki agar setiap muslim berusaha melakukan tindakan-tindakan preventif (pencegahan) agar tidak terrimpa suatu bencana atau mengalami kegagalan dalam suatu usaha.


Diantara cara-cara yang harus ditempu agar sesuatu usaha berhasil adalah sebagai berikut : 
  1. Menguasai bidang usaha yang dilakukannya
  2. Berusaha dengan sungguh-sungguh
  3. Melandasi usahanya dengan niat ikhlas karna Allah
  4. Berdoa pada Allah agar memproleh pertolongannya


Allah SWT  Berfirman dalam Al-Quran surat An-Najm, 53: 39-42) yang artinya :
“ ... sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (kecuali) bila mereka sendiri mengubah keadaannya ...” (Q.S An-Najm 53: 39-42)

Renungan !
Apakah kamu telah berusaha dengan sungguh-sungguh  akan pekerjaan ataupun niat yang telah kamu tanamkan untuk dicapai ??


Kamis, 09 Oktober 2014

Jenis-Jenis Nafsu

Standard
Berbicara mengenai nafsu, sering sekali kita langsung berfikir akan hal negatif namun itu juga tak bisa disalahkan karna kebanyakan manusia sering kali salah dam menggunakan nafsunya tersebut, maka dari itu untuk dapat membedakan dari berbagai nafsu, mari kita lihat uraian berikut ini :

  • Nafsu Amarah manusia yang terendah tingkatannya, dimana orang termasuk di dalam golongan ini adalah orang yang sangat jelek sifat dan wataknya.(QS. Yuusuf, 10:53)
  • Nafsu Kamilah adalah Tingkatan nafsu yang sempurna, ini hanya dimiliki oleh setingkat Nabi-nabi dan Rasul-rasul. (penyerahan diri secara totalitas pengabdian kepada Allah) (QS: Ali Imran,3/110, 33/21)
  • Nafsu Radhiah adalah Tingkatan ini berada setingkat diatas nafsu Muthmainah, ditambah dengan rasa ikhlas dan penyerahan total kepada Allah SWT, kesusahan/musibah/tantangan mjd nikmat baginya.(QS: Al-Baqarah,2/45 & Ali Imran,3/146).
  • Nafsu Mutma'innah adalah nafsu yang membuat seseorang dapat mempertahankan diri dari segala kejahatan karena ia selalumenghubungkan diri kepada Allah SWT, dan mencari ridho-Nya.
  • Nafsu Ammaraah adalah nafsu yang mendorong seseorang berbuat jahat, melampiaskan syahwat, dan menentang ajaran islam (QS Yuusuf, 12:53)
  • Nafsu Lawwaamah adalah nafsu yang membuat seseorang kadan-kadang mengikuti jalan kebaikan dan kadang kadang mengikuti jalan kejelekan (QS. Al-Qiyaamah, 75:2)
  • Nafsu Malhamah adalah nafsu yang di ilhami oleh Allah SWT,  membersitkan jiwa yang penuh dengan kebaikan-kebaikan dan kemuliaan, sabar, ramah, rendah hati, bertakwa serta menyucikan diri (QS. Ass-Syams, 91:8)





Nah termasuk kedalam manakah nafsu yang sering anda alami??
semoga Nafsu kebaikan.

Kesabaran Yang Indah

Standard
Ummu Sulaiman bercerita bahwa ia ditinggal meninggal oleh seorang anaknya, sedangkan suaminya waktu itu tidak ada di rumah. Ummu Sulaiman mampu bersabar dalam menjalani musibah itu, dan ia berusaha agar suaminya pun bersabat. Apa usaha yang dilakukannya ? Ummu Sulaiman meletakkan jenazah anaknnya di sudut rumah agar suaminya datang tidak melihat langsung bahwa anaknya sudah meninggal. suaminya datang, makanan telah tersedia, lalu ia makan. kemudian suaminya bertanya, "bagaimana anak kita?" ia menjawab, alhamdulillah, setelah sejak ia sakit malam inilah ia tenang." 

Ketika malamnya Ummu Sulaiman berdandan secantik mungkin sehingga mereka bermesraan kemuadian setelah selesai merka berbincang-bincang mengenai keadaan tetangganya yang sedang mengalami musibah, Ummu Sulaiman berata "suamiku apakah kamu tidak heran dengan tetangga kita?", Jawabnya, "mengapa mereka?" Ummu Sulaiman pun berkata, "mereka diberi pinjaman dan sewaktu pinjaman itu diminta kembali, tiba -tiba mereka merasa sangat sedih." Suaminya pun menjawab, "buruk sekali kelakuan mereka itu. " 

Pada ketika itu Ummu sulaiman berkata, "begini suamiku, anak kita itukan merupakan titipan atau pinjaman dari Allah SWT, dan sekarang ia telah diambil kembali oleh-NYA". Suaminya itu mengerti apa maksud dari perkataan istrinya tersebut, lalu ia berucap, "Alhamdulillah, Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun." 


Keesokan paginya, Suaminya tersebut menjumpai Rasulullah SAW dan menceritakan kejadian semalam, tentang sikat istrinya dan meniggalnya anak mereka. Kemudia Rasulullah SAW  ber do'a, "Ya Allah, berikanlah kebaikan untuk suami-istri itu dan keluarganya." 

Selasa, 07 Oktober 2014

Mudarabah dan Musaqah

Standard

Sering sekali dalam kehidupan kita melakukan kesepakatan dengan orang disekitar kita masalah penentuan modal yang kita tamamkan ataupun pengelolaan yang benar dan sesuai dengan hukum islam, maka dari itu saya memberika sedikit pemaham mengenai hal yang bersangkutan, berikut penjelasannya :

Mudaarabah adalah pemilik modal menyerahkan modalnya kepada pekerja (pedagang) untuk diperdagangkan, sedangkan keuntungan dagang itu dibagi antara pemilik modal dan yang memperdagangkan modal, yang besar bagian masing-masingnya sesuai dengan kesepakatan mereka. Mudaarabah sama dengan qirad.



Musaqah adalah perjanjian yang dilakukan antara pemilik tanah dan penggarap untuk mengelolah dan menanami lahan garapan yang belum ditanami, dengan ketentuan mereka secara bersama-sama memiliki hasil dari tanah yang teah ditanami tersebut, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat.

semoga pembelajaran kali ini bisa bermanfaat dan membawa berkah, Aamiin.

Senin, 06 Oktober 2014

Surga dan Neraka bagi Hakim

Standard
Buraidah menceritakan, " Rasulullah SAW bersabda, 'Qaadi atau hakim itu ada tiga macam. Dua macam masuk neraka dan satu macam masuk surga. yaitu : 

1. Apabila dia mengetahui mana yang diperkarakan itu benar, lalu ia menjatuhkan keputusan hukumannya menurut itu, maka surga telah menanti.

2. Dia mengetahui mana yang benar, tetapi tidak menjatuhkan keputusan berdasarkan itu, sehingga ia menyimpang dari hukum yang sebenarnya, maka neraka telah menanti.

3. Dia tidak mengetahui mana yang benar, lalu dia menjatuhkan keputusan berdasarkan kejahilannya itu, maka neraka juga telah menanti.



(H.R. Al-Arba'ah dana dipandang salih oleh Al-Hakim) 

Antara Ilmu dan Harta

Standard
Ali bin Abu Thalib menegaskan bahwa kelebihan ilmu pengetahuan itu adalah :


  • Ilmu adalah warisan para Nabi 'alaihimussalatu wassalam, sedangkan Harta adalah warisan Fir'aun dan Qarun.
  • Ilmu lebih mulia daripada Harta, karna Ilmu menjaga manusia, sedangkan Harta dijaga  oleh manusia.
  • Orang yang berilmu banyak kawannya, sedangkan orang yang banyak hartanya banyak  musuhnya.
  • Ilmu bila diberikan akan bertambah, sedangkan harta bila diberikan akan berkurang.
  • Ilmu tidak bisa dicuri, sebaliknya harta bisa dicuri.
  • Ilmu tidak akan habis sebelum pemiliknya meniggal, sedangkan harta sangat mungkin lenyap sebelum pemiliknyo meniggal. 
  • Ilmu tidak dapat dihitung jumlahnya sedangkan harta bisa diketahui jumlahnya.

nb: bagaimana menurut pendapat kalian mengenai pemikiran daripada Ali bin Abu Tholib ? setujuhkah ?

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS
  • ”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”
  • "Hati tertutup oleh tiga hal; 1.Senang dengan yang ada, 2.Bersedih terhadap yang hilang, 3.Gembira dengan pujian"
  • "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan"
  • "Jangan sampai ayam jantan lebih pandai darimu. Ia berkokok di waktu subuh, sedang kamu tetap lelap dalam tidur"
  • "Bagi orang berilmu yang ingin meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, maka kuncinya hendakalah ia mengamalkan ilmunya kepada orang-orang"
  • "Pedagang yang berhati lemah takkan pernah untung ataupun rugi. Malah ia rugi. Ya, seseorang harus menyalakan api supaya memperoleh cahaya"