“Brraaaakkkk...”
Tumpukan kardus terjatuh
“Hai nak, apa yang kamu lakukan?” Kata salah satu ibu penjaga toko.
Anak tersebut menjawabnya dengan nafas yang tak beraturan ditambah keringat yang mengalir, “Saya tidak melakukan apa-apa..”
“Lalu mengapa kamu bersembunyi di sini?” Timbalnya lagi.
“Anu... sa..sa..saya lari dari kejaran orang itu!” Jawabnya.
“Siapa dia, apakah dia jahat ataukah kau mencuri barang miliknya atau jangan-jangan kamu ini anak yang sedang diburu oleh polisi!” Tegas ibu tersebut.
Dengan wajah yang murung anak tersebut menjawab dengan nada yang lemah, “Saya bersembunyi disini karena saya mengambil barang milik bapak tersebut.”
“Benarkan dugaan saya. Kamu pencuri, masih kecil tapi sudah belajar mencuri,” kata ibu tersebut.
Anak tersebut menjawabnya dengan nada kesal, “ Saya mencurinya karena saya tahu kalau dia itu orang kaya, orang mampu..!!!” Kebanyakan orang kaya sekarang tidak memperhatikan saudara-saudaranya yang sedang kesusahan, mereka dengan senang hati membuang makanan yang sebenarnya masih bisa dimakan, dan bahkan uang yang mereka dapatkan kadang kala hasil dari perbuatan kotor, mereka tak berfikir lagi kalau sebelumnya mereka juga termasuk orang yang tak mampu.
Ibu tersebut termenung dan memikirkan perkataan anak tersebut.
“Mengapa ibu diam??” Tanya anak tersebut.
“Tidak.. saya hanya berfikir,” jawabnya. “Sebenarnya kamu ini anak yang pintar akan tetapi yang mendidikmu seperti sekarang adalah lingkunganmu. Sudah tak usah bersembunyi terus, keluarlah pemilik barang tersebut telah pergi jauh.” Kata Ibu tersebut.
“Oh ya, kamu tidak bohongkan??” Dengan wajah yang cemas dan tubuh yang gemetar dia pun keluar secara perlahan.
“Ibu boleh bertanya nak sama kamu...??” Tanya ibu tersebut.
“Tanya apa??” Dia jawab dengan nada yang datar.
“Dimana orang tuamu..??” Tambah ibu itu.
“Saya tidak tahu,” jawabnya.
***
Kemudian dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupannya. “Dulu lima tahun sebelum saya dilahirkan, ibu dan bapak saya adalah orang terkaya di daerah ini, mereka hidup dipenuhi kemewahan, kepuasan dan apa pun yang mereka ingin kan dengan mudahnya mereka dapatkan bagaikan membalik telapak tangan, namun mereka berdua disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing, ketika ayah saya pulang pada siang hari ibu saya sedang sibuk di kantornya , dan ketika malam harinya ibu saya pulang tak juga kunjung berjumpa.”
Anak itu pun terhenti sejenak tuk merenung dan sampai akhirnya ia mengeluarkan air matanya, ibu tersebut terkejut. “Mengapa kamu mengeluarkan air mata???” Tanyanya.
“Saya tidak bisa menahan perasaan ini, bagaimana jika pada saat itu saya telah dilahirkan pasti saya tidak merasakan kasih sayang orang tua, tak seperti anak-anak yang lain,” ujar anak tersebut.
Dengan meneteskan air matanya anak tersebut melanjutkan ceritanya.
“Kemudian sampailah suatu saat mereka diuji oleh Tuhan, mereka diberikan musibah yang kemudian membawa ayah saya kepenjara karena kasus korupsi yang dilakukannya, itu pun ibu saya tidak langsung tahu apa yang terjadi pada ayah saya, setelah beberapa hari kemudian ibu saya baru tahu akan musibah tersebut, setelah mendengarkan berita tersebut hatinya pun hampir saja tak terketuk untuk menjenguk suaminya tersebut di penjara, namun Tuhan berkehendak lain, ketika malam harinya ketika ia tertidur lelap ia bermimpi melihat tanaman yang layu padahal di dekat tanaman tersebut terdapat banyak pupuk dengan kualitas yang bagus dan air yang banyak.
Di pagi harinya ia termenung apakah maksud dari mimpinya semalam, tak berapa lama kemudian tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya tanaman yang layu itu akibat tidak adanya perhatian dari pemiliknya, nah..dari kejadian itulah akhirnya ia sadar kalau hidup dengan harta yang banyak, melimpah dan mewah akan sia-sia.
Lalu dengan bergegas dia menjenguk suaminya di penjara, setelah mendapat informasi lebih lanjut akan hukuman yang akan diterima suaminya yakni 10 tahun penjara. Ia pun merasa sedih dan menyesal akan sikapnya yang selama ini tak pernah peduli akan pentingnya keluarga dan ia pun berjanji akan menjenguk suaminya 3 kali seminggu atau bila perlu setiap hari disela kesibukkannya.
***
“Laras... Laras... , kemari.”
“Ya, ada apa nyonya..??” Jawab Laras.
“Cepat kamu buatkan susu buat Padli, dari tadi dia terus menangis terus!” Perintah ibu tersebut sambil menggendong anaknya.
“Baik, nyah..” Patuh Laras.
Kini anak tersebut lambat laun tumbuh, namun dia mempunyai satu kekurangan, tak seperti anak yang lain , yakni tak mengenal ayahnya sendiri.
Ibunya sengaja tak menceritakannya karna dia yakin jikalau diceritakannya maka pasti ia akan marah dan bersikeras ingin menemui ayahnya, maka dari itu setiap kali anaknya bertanya dimana ayah? Pasti dijawabnya, ayahmu lagi bekerja dan akan lama kembali.
Suatu hari ketika ia menginjak ke bangku sekolah ia mendapatkan olokan, ejekan dan cacian dari teman-temannya dan tak lain itu karena dia ditinggal ayahnya pergi, dia menangis dan melaporkan ke guru kelasnya, setelah teman-temannya mendapatkan hukuman karna perbuatan mereka, sepulang dari sekolah dia diantar gurunya pulang karena ibunya sedang sakit.
Setiap kali ibunya sakit, dia selalu berdoa agar Tuhan jangan mengambil ibunya, karna dia tahu kalau dia sudah tak punya ayah yang sekarang pergi jauh entah kemana.
Semenjak ibunya sering sakit-sakitan, gurunya jadi sering mengantarnya pulang ke rumah, dia juga diajarkan les oleh gurunya, dia juga sering bercerita pada gurunya tersebut tentang ayahnya dan cita-citanya.
“Bu guru, apakah Ayah saya nanti akan pulang??” Tanyanya sambil mengerjakan tugas.
“Emang ayahmu pergi kemana?” Ibu guru tersebut menanyanya balik.
“Kata Ibu, Ayahku pergi jauh untuk bekerja, tapi aku tak yakin dia sudah lama sekali perginya, aku sudah rindu padanya,” dengan wajah yang sedih dia menjawab.
Ibu gurunya berfikir, apakah benar yang dikatakan anak ini tentang ayahnya, tapi tak mungkin benar, ayahnya pasti mendapatkan suatu masalah yang ibunya tak mau dia tahu. “Ya.. Bisa saja mungkin, Ayahmu bekerja sangat keras untuk kebahagianmu..” jawab gurunya tersebut sambil tersenyum.
“Sekarang Ibu pulang dulu ya, Ibu masih punya pekerjaan yang lain di rumah, nanti kita bisa lanjutkan besok.”
Dalam perjalanan pulang ke rumah, ibu guru tersebut masih memikirkan apa yang dikatakan anak tersebut. Mungkin besok harus aku tanya pada ibunya, apakah yang dikatakan anaknya itu benar, gerutunya dalam hati.
Sinar mentari pun menembus embun pagi di rumah guru tersebut, kini sudah saatnya dia menjalankan tugasnya sebagai guru sekolah. Setelah datang di sekolah ibu tersebut bertemu dengan Padli bersama ibunya, dan mereka kemudian membuat janji untuk bertemu. Karna guru tersebut masih resah akan kata-kata Padli.
Sepulangnya dari sekolah guru tersebut mengantarkan Padli pulang karena sekalian ada yang ingin dibicarakan.
Setibanya di rumah, guru tersebut langsung menanyakankan masalah anak Padli yang selalu ingin tahu dimana ayahnya.
“Bu Lia, apakah benar ayah Padli benar pergi bekerja?” tanya guru itu.
“Tidak bu guru, sebenarnya ayahnya Padli sekarang berada di penjara”, dengan wajah yang sedih ibu tersebut menjawabnya.
“Jadi bu Lia tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepada Padli ?” tanya guru itu lagi.
“Ia benar, saya tidak katakan yang sebenarnya apa yang sedang terjadi pada ayahnya, saya tidak ingin kalau Padli jadi sedih dan tak punya semangat untuk menjalani hari-harinya” jawabnya.
Tanpa mereka tahu, ternyata Padli mendengar semua pembicaraan mereka, dia pun merasa kecewa pada ibunya karna tidak jujur padanya.
Setelah dia tau apa yang sebenarnya yang terjadi pada ayahnya dia berusaha mencari keberadaan ayahnya. Ibunya pun semakin sakit-sakitan dan tak bisa lagi mengawasinya secara penuh dan pada akhirnya ibunya pun meninggal dunia.
Penderitaan anak tersenbut semakin dalam, ayahnya di penjara dan kini ibunya meninggal dunia. Berita meninggalnya ibu Padli sampai ke telinga gurunya. Lalu Padli di titipkan di panti asuhan anak, karna guru itu takut kalu Padli akan semakin terpuruk.
***
“Padli ayo lempar bola itu” panggil Aril.
“Iya, kamu tunggu disana” jawab Padli dengan semangat.
Hari-hari Padli kini semakin membaik semenjak peristiwa tersebut, tapi kadang kala dia ingat akan ayahnya dan ingin bersikeras untuk menjenguknya. Segala usaha dilakukannya agar dia bisa bertemu dengan ayahnya, dan pada akhirnya dia pun bertemu dengan ayahnya karna pada waktu itu masa tahanan ayahnya sudah habis dan diperbolehkan kembali pulang. Padli pun senang karna sudah beberapa tahun tidak bertemu dengan ayahnya, namun dalam perjalanan pulang mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Padli selamat sedangkan ayahnya harus pergi menyusul ibunya.
***
“Sudalah saya tidak ingin menceritakan kembali kenangan yang bisa membuat saya lebih sakit lagi” sambung Padli
Dalam hati ibu tersebut sebenarnya dia ingin menggangkat anak tersebut,karna dia takingin jikalau anak itu jadi penerus bangsa yang buruk.
Baiklah kamu tak perlu melanjutkan ceritamu kalau kamu tidak kuat, sekarang ibu mau bertanya “Apakah kamu ingin menjadi anak angkat ibu??” Tanyanya
***
Kini Padli berada di rumah yang mewah dan dia berjanji tidak akan melakukan perbuatan buruk seperti dulu, dan akan membuat dirinya lebih berguna.
Penulis : WIndi Hilman




0 komentar:
Posting Komentar